Tampilkan postingan dengan label proposal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label proposal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Kampung Ciptagelar

Analisa Kearifan Lokal Masyarakat Kampung Ciptagelar




I.PENDAHULUAN


1.Latar Belakang

Perhatian pokok aspek kelembagaan adalah perilaku dengan kompleks faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku tersebut. Koentjaraningrat (1977), mengatakan bahwa wujud ideal kebudayaan yaitu berupa ide-ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya yang disebut sebagai adat istiadat atau adat. Wujud ideal merupakan bagian kebudayaan yang mempengaruhi dua wujud yang lainnya, yaitu wujud tata kelakuan dan wujud benda-benda. Wujud ideal dari kebudayaan terbagi menjadi empat lapisan yakni sistim nilai budaya, sistim norma, sistim hukum dan peraturan-peraturan khusus. Keempat lapisan tersebut secara berantai saling mempengaruhi, dimana sistim nilai budaya merupakan inti kebudayaan (core culture) yang mempengaruhi tiga hal yang lain.

Nilai (value) merupakan konsepsi-konsepsi abstrak didalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Ia mencerminkan suatu kualitas preferensi dalam tindakan, member perasaan identitas dan menentukan seperangkat tujuan yang hend-ak dicapai oleh suatu kelompok masyarakat tersebut. Karena itulah nilai meupakan unsur pokok dan fundamental dalam dalam masyarakat, serta menjadi tonggak bangunan struktur sosial. Nilai lebih tinggi dari norma, karena norma diturunkan dari nilai.

Norma merupakan aturan sosial, patokan berperilku yang pantas, atau tingkah laku rata-rata yang diabstraksikan. Kekuatan mengikat sistim norma terbagi menjadi empat tingkatan yakni cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores) dan adat istiadat (custom). Pelanggaran terhadap keempat tingkatan norma tersebut memiliki hukuman yang berbeda sesuai dengan level kekuatan yang mengikatnya. Norma bersumber dari nilai, serta merupakan wujud nyata dari nilai. Dalam norma termuat hal-hal tentang keharusan, dianjurkan, dibolehkan atau dilarang. Norma mengonrol perilaku manusia.

Kelembagaan merupakan tempat dimana norma tersebut hidup dan dijaga. Norma yang tumbuh dalam satu kelompok sosial akan berbeda dengan kelompok sosial lain. Karena itu, dalam mempelajari suatu kelembagaan perlu dicermati norma seperti apa yang dimiliki masyarakat tersebut. Pelasanaan praktik lapangan ini yang berlokasi di Kampung Ciptarasa dan Kampung Ciptagelar Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Jawa Barat yang merupakan salah satu lokasi yang masih memegang teguh norma nilai-nilai dalam berkehidupan.


2. Tujuan

1. Mengetahui sistim norma/nilai yang ada Kampung Ciptarsa-
Ciptagelar dalam mengatur kehidupan masyarakat.
2. Mendapatkan pembelajaran mengenai hubungan antara
pengetahuan,kebijakan lokal, dan norma dengan pengembangan
masyarakat yang ada di kampung Ciptarasa-Ciptagelar.



II.METODE PELAKSANAAN


Kegiatan Praktek lapang dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 9 sampai 10 Januari 2009, berlokasi di Kampung Ciptarasa-Ciptagelar Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa Kampung Ciptarasa-Ciptagelar merupakan salah satu daerah yang masih terikat oleh aturan adat dan memegang teguh norma dan nilai yang ada dalam masyarakat.

Pelaksanaan praktek lapang dilakukan dengan metode survey dan wawancara dengan masyarakat, tokoh adat, dan pihak terkait menyangkut kehidupan sehari-hari, adat istiadat, pengetahuan lokal, inovasi tenologi dan sistem kelembagaan kemasyarakatan.


III. GAMBARAN UMUM

Secara administratif, Kampung Ciptagelar merupakan bagian dari desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 Km, dari kota kecamatan 27 Km, dan dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 Km. Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (motor).

Guna mencapai lokasi tujuan, dapat dilakukan dengan kendaraan roda empat dan roda dua yaitu melalui Palabuhanratu - Cisolok berhenti di Desa Cileungsing. Dari Desa Cileungsing menuju Desa Simarasa dan berhenti di Kampung Pangguyangan. Di Karnpung Pangguyangan menuju Kampung Ciptarasa kemudian Ciptagelar dapat ditempuh dengan naik kendaraan roda dua (motor) mengingat kondisi jalan yang berat.
Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa. Artinya sejak tahun 2001, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan “hijrah wangsit” ke Kampung Ciptagelar yang berjarak 9 Km dari Kampung Ciptarasa. Ciptagelar sendiri mempunyai arti terbuka atau pasrah. Kampung ini berada di gunung Halimun yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dan berada pada ketinggian 1200 mdpl. Sedangkan Kampung Ciptarasa sendiri berada di dipunggung Gunung Sangiang dan Gunung Bodas, terletak pada ketinggian 750 mdpl.

Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena “perintah leluhur” yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan. Oleh karena itulah kepindahan kampung adat bagi warga Ciptagelar merupakan bentuk kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhurnya. Kampung adat Ciptagelar dihuni oleh 293 orang yang terdiri dari 84 KK yakni 151 Laki-Laki dan 142 Perempuan.


IV.HASIL PELAKSANAAN


A. Kehidupan Sosial

Kampung Kasepuhan Ciptagelar, kini dipimpin oleh Ugi putra dari Abah Anom yang umurnya masih relatif muda 22 tahun, dan biasa disebut sebagai abah. Karena itu pula sebutan lengkap sang pemimpin adat itu adalah Abah Ugi.
Begitu sampai di kampung itu, langsung terasa suasana lain dan akan terlihat bentuk rumah sederhana khas Sunda yang masih sangat tradisional. Atapnya masih menggunakan ijuk dan hampir semua bahan material rumahnya menggunakan kayu serta bambu sehingga tampak asri dan alami.

Di antara tempat tinggal penduduk adat, terdapat rumah besar. Bangunan itu merupakan tempat tinggal pemimpin adat yang disebut imah gede. Di dalamnya ada balai pertemuan dan rumah Abah (pemimpin adat). Yang unik lagi, dekat dengan imah gede terdapat leuit (lumbung padi) "Si Jimat" yang merupakan leuit terbesar. Di sekeliling rumah warga pun banyak terdapat deretan leuit yang beratapkan ijuk.

Kebersamaan di antara masyarakat Ciptagelar tampak begitu erat, baik pada masyarakat jiwa jero (warga adat dalam) maupun jiwa luar (warga adat luar). Kebersamaan diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan dengan ciri khas kemandirian masyarakat. Mulai dari pertanian padi, pengairan sawah, pengadaan air bersih, hingga membangun perekonomian terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Pembangunan infrastruktur pun mereka kerjakan sendiri melalui gotong royong. Mulai dari pembuatan jalan, listrik, perumahan, hingga telekomunikasi.

Di tengah kekhawatiran banyak orang atas semakin sulitnya mendapatkan bahan makanan, terutama beras, khususnya pada musim kemarau yang belum jelas kapan berakhirnya ini, warga Kasepuhan Ciptagelar dan Kesatuan Adat Banten Kidul pada umumnya patut dijadikan contoh oleh kita semua. Bagaimana warga di sana berusaha hidup mandiri, sebanyak mungkin melepas ketergantungan kepada pihak lain, namun di sisi lain menjunjung tinggi kegotongroyongan di dalam "keluarga" sendiri adalah hal yang sudah semakin hilang di sekeliling kita.

Meskipun mereka hidup dari hasil bersawah dan berladang yang panen hanya sekali setahun, di keluarga Kesatuan Adat Banten Kidul itu tak terdengar ada kabar tentang kekurangan pangan, apalagi kelaparan. Bahkan, lumbung-lumbung gabah tidak pernah kosong sepanjang tahun. Semua rumah milik warga adat di sana mempunyai lumbung beras sendiri-sendiri. Setiap keluarga ada yang mempunyai satu-dua lumbung, tetapi ada juga yang punya sembilan sampai 12 lumbung. Setiap lumbung kapasitasnya bervariasi, antara 2,5 ton sampai 10 ton gabah kering.

Dari sisi filosofi Leuit mengandung sebuah kearifan lokal yang sudah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi melalui bahasa yang dipahami bersama akan keharusan “ Ngeureut ceum neum deum keur jagani isuk” (menyisikan untuk hari depan). Inilah wujud tabungan yang sesunguhnya telah dipraktekan lama untuk beberapa tempat ada yang telah dikelola berupa simpan pinjam padi. Leuit menjadi penyambung atau wujud dari beberapa bahasa pitutur dari ajaran-ajaran sunda dan mungkin ini juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Sentuhan tradisi dengan nuansa sakral membuat leuit dilingkungan warga kesatuan adat bisa lestari.

Selain lumbung-lumbung yang dimiliki masing-masing warga tersebut, ada juga lumbung paceklik yang khusus disiapkan yang berfungsi untuk menampung gabah kering dan akan dikeluarkan apabila ada warga yang membutuhkannya. Kalau ada musibah, gabah akan dikeluarkan tergantung kebutuhan. Akan tetapi, diambil dari lumbung, bukan hanya dari satu lumbung. Warga yang kehabisan gabah bisa meminjam dari warga lainnya atau dari lumbung paceklik. Karena itulah, warga Kasepuhan Ciptagelar tidak boleh menjual gabahnya kepada orang luar. Alasannya sederhana saja, mereka hidup jauh dari perkotaan jika suatu saat membutuhkan beras, tidak mungkin bisa mendapatkannya saat itu juga. Meskipun "larangan" itu tidak tertulis dan bahkan juga bukan suatu larangan yang ada sanksinya bila dilanggar, seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar menaatinya.

Kemandirian warga adat Kasepuhan Ciptagelar di bidang pangan hanyalah salah satu bentuk kemandirian warga adat tersebut. Dalam bidang-bidang lainnya, sifat kemandirian itu terus dikembangkan dan dipraktekan. Kegiatan-kegiatan yang ada itu tidak terlalu banyak membutuhkan uang, tetapi juga tenaga.
Untuk pembangunan jalan, misalnya, bantuan warga bukan berbentuk uang, tetapi tenaga. Ayo nyangkul ramai- ramai, yang kalau diuangkan nilainya puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jadi, modal dasarnya tenaga, keinginan, kebersamaan, bisa sama-sama mengerjakannya. Praktek tenaga dan kebersamaan itu pulalah yang menonjol terlihat dalam tiga hari pelaksanaan.

Pada waktu kampung ciptagelar dibentuk, dengan bergotong-royong mereka membangun rumah-rumah dan sarana prasarana sebuah kampung lainnya, termasuk Imah Gede yang merupakan tempat para tamu diterima, serta Imah Rurukan yang menjadi tempat tinggal Abah Anom. Bangunan rumah mereka sepenuhnya berpegang pada nilai adat, yaitu tidak boleh beratap genting atau seng, tidak bertembok bata dan semen, tetapi merupakan rumah panggung yang dominan kayu dan bambu, serta beratap ijuk campur daun kirai.

Secara rasional dapat dikatakan bahwa alasan perintah untuk pindah itu terkait dengan sudah semakin padatnya populasi di kampung mereka terdahulu, yang dikhawatirkan akan semakin mempersulit warga untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup mereka. Apalagi, lahan di lereng Gunung Halimun itu memang masih banyak yang belum dimanfaatkan.

Yang jelas, memandang Kampung Ciptagelar dari tanah yang lebih tinggi, kita akan melihat pemandangan kampung yang khas. Di balik kekhasan kampung itu terkandung nilai kegotongroyongan warga yang sangat kuat, serta kemandirian mereka untuk tidak tergantung pada bantuan pemerintah dan pihak lainnya

B.Adat Istiadat Kasepuhan Ciptagelar

Pakaian adat biasa yang digunakan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar adalah baju kokoh warna hitam atau putih bersih dan ikat kepala untuk kaum lelaki. Untuk kaum wanita biasanya menggunakan samping atau kain sarung atau kebaya. Pakaian adat ini harus dipakai saat masuk dalam imah gede (rumah abah untuk menerima tamu dan tempat melakukan kegiatan-kegiatan adat).

Tempat tinggal warga Ciptagelar harus mengikuti aturan dari leluhur dengan menggunakan rumah panggung (atap yang terbuat dari daun kerai dan ijuk) dinding terbuat dari bambu dan umpakan. Warga Kasepuhan Ciptagelar tidak menggunakan genteng sebagai atap rumah karena hidup dibawah genteng hanya untuk orang yang sudah meninggal berada dibawah tanah.

Selain pakaian adat dan rumah adat yang menjadi ciri khas Kasepuhan Ciptagelar terdapat tempat upacara adat/ritual adat yang rutin dilaksanakan. Adapun upacara adat yang terkenal hingga luar kota dan rutin dilaksanakan oleh masyarakat ciptagelar adalah pentasan dangdut.

Seren Tahun, maksud diadakan Seren Tahun ini adalah sebagai ucapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Dalam acara ini berbagai acara kesenian ditampilkan diantaranya jipeng, topeng, angklung, dogdog lojor, wayang golek Acara ini biasanya dihadiri oleh warga adat Banten Kidul. Undangan serta masyarakat luar kasepuhan ciptagelar. Acara ini merupakan acara puncak dari masyarakat kasepuhan ciptagelar seperti upacara ngaseuk, syukuran penanaman padi/upacara sampang jadian pari, selamatan pari ngidam, mapag pari beuka, upacara sawenan, syukuran metik pari, nganjaran, ngabukti dan ponggokan.

Selain upacara adat terkait dengan padi, ada upacara lain yang dilakukan masyarakat baik pimpinan adat maupun secara pribadi yaitu :
1.Selamatan 14 na disaat bulan purnama
2.Upacara nyawen bulan safar pemasangan jimat kampung
3.Rosulan permohonan
4.Selamatan beberes nebus dosa membiarkan masalah karena pelanggaran
5.Sedekah maulud dan ruah saling mengirim makanan.

C.Perekonomian

Masyarakat Kampung Ciptarasa-Ciptagelar menggantungkan hidupnya pada alam. Untuk makan, mereka peroleh dari hasil kebun seperti beras dan sayuran, sedangkan untuk memenuhi kehidupan lain, pendapatan mereka peroleh dari usaha samping berupa hasil bumi cengkeh, kopi, pisang, gula aren, singkong untuk pembuatan kripik dan peternakan kambing, ayam dan itik. Disamping itu ada juga pembuatan kerajinan berupa anyaman yang dibuat bahan lokal yang ada disekitar perkampungan.

Hasil panen tanaman padi diolah dengan menggunakan lesung yang terbuat dari kayu, dan ditumbuk sesuai dengan kebutuhan sedangkan sisanya disimpan di lumbung padi (leuit). Begitu juga dengan pembuatan gula merah, dengan menggunakan bahan lokal yang ada disekitar kampung maka dibuat gula merah dengan hasil yang apabila dijual ke pasar dengan harga Rp. 17.000/bh.


D.Infrastruktur Penunjang

Kampung Ciptagelar juga dikenal mandiri untuk pembangunan berbagai fasilitas mulai dari jalan hingga permukiman. Mereka juga tidak tergantung dengan dunia luar. Kebutuhan energi terutama dipasok dengan pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Orang sini terkenal pandai membuat kincir air, biasanya sering diminta untuk membuat kincir di daerah lain.

Untuk menunjang aksesibilitas masyarakat ke daerah lain, maka dibuat jalan dan jembatan sederhana. Dalam pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya, warga Kasepuhan Ciptagelar melakukannya dengan tenaga mereka sendiri. Beberapa proyek pembangunan jalan dan jembatan yang seharusnya menelan biaya hingga ratusan juta rupiah dilaksanakan sepenuhnya atas swadaya masyarakat adat Kasepuhan tersebut.
Disamping itu, wilayah ini memiliki empat turbin yang dapat menghasilkan energi listrik hingga 353.000 watt. Keempat turbin itu merupakan bantuan dari lembaga JICA, UNDP, Pemprov Jabar, dan hasil tabungan Yayasan IBK Jakarta.

Untuk menunjang pelaksanaan pendidikan, diselenggarakan secara mandiri. Di Ciptagelar yang baru berdiri tempat tahun lalu telah bangunan sekolah tiga lokal. Kampung Ciptagelar juga memiliki media informasi berupa radio komunitas. Investasinya dibantu Institut Bisnis dan Ekonomi Rakyat, Rp 8 juta untuk membeli sejumlah peralatan. Pendiri radio komunitas, Ugi Sugriana yang juga anak Abah Anom. Radio komunitas didirikan untuk mengembangkan adat dan budaya. Berbagai ragam kesenian Sunda seperti kesenian wayang golek, klasik sunda, dan dog dog lojor diperdengarkan. Kedepannya akan diupayakan program pendidikan dan kesehatan.
Sebenarnya radio ini didirikan untuk kepentingan warga, yang
mendapat bantuan dari warga luar Kasepuhan Adat. Kekuatannya hanya 20 watt.
Untuk kepentingan komunikasi dan informasi dari kasepuhan untuk warga di
sekitar, yang sifatnya untuk media hiburan yang masih bersifat tradisi. Yang
mengedepankan adat istiadat Karena keterbatasan daya listrik, radio mengudara dengan waktu terbatas pula. Siaran Radio hanya mengudara malam hari, karena kalau siang warga banyak yang berada di ladang.

Warga sangat merasakan manfaat radio, mereka mengaku sejak ada radio warga tidak pernah ketinggalan informasi. Mulai dari kegiatan adat sampai hiburan lagu sunda. Banyak gunanya selain komoditas hiburan, tetapi juga untuk
informasi antara Kasepuhan Ciptagelar.


E. Kelestarian Lingkungan

Warga adat Kampung Ciptagelar sudah sejak lama berpartisipasi langsung dalam penjagaan kelestarian hutan lindung Gunung Halimun. Bahkan di lingkungan adat, dikenal dua istilah penjagaan hutan yakni "hutan titipan" dan "hutan tutupan". Disamping itu, ada juga hutan garapan yang dapat digunakan warga untuk kepentingan hidupnya.

"Hutan titipan" yaitu hutan yang bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan warga adat, termasuk untuk pemindahan warga adat. Itu pun jika ada wangsit karuhun harus pindah tempat. Kalaupun terpaksa mengambil kayu, sebatas untuk keperluan pembuatan rumah warga ataupun sekadar untuk kebutuhan kayu bakar.
Lain lagi dengan "hutan tutupan". Hutan ini sama sekali tidak boleh dimasuki atau diganggu warga untuk keperluan apapun. Sekalipun hanya mengambil ranting dan dahan pohon, tetap tidak boleh. Bahkan mereka begitu percaya, jika ada warga yang berani memasuki hutan tutupan maka akibatnya akan kabendon atau kualat sebab sudah melanggar aturan adat.

Dengan adanya istilah dua kelompok hutan tersebut, secara tidak langsung mereka telah memilah-milah kelompok dan fungsi hutan. "Hutan tutupan" bisa diartikan hutan lindung yang perlu dilestarikan dan dilarang merusaknya.
"Fungsi ’hutan tutupan’ ini tak hanya mesti dilestarikan guna mencegah terjadinya berbagai musibah seperti longsor, banjir, atau kekeringan. Melainkan sudah diikat oleh sanksi adat bila ada yang melanggarnya. Jadi, warga adat di sini sama sekali tidak merusak hutan, justru sebaliknya melestarikan hutan,".

Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, pemimpin Adat Ciptagelar pun sangat mempriotitaskan program penghijauan hutan. Penghijauan juga guna menjaga daerah resapan air yang besar manfaatnya untuk kepentingan warga adat. Pentingnya menjaga dan melestrarikan hutan lindung ini, memang telah dirasakan sangat besar manfaatnya untuk kehidupan dan kesejahteraan mereka. Buktinya, pemakaian energi listrik di kampung adat ini memanfaatkan aliran air sungai melalui teknologi mikrohidro.


E.Leasson Learned

Kehidupan masyarakat Kampung Ciptagelar sangat memegang teguh adat/norma yang telah ada sejak dahulu. Mereka beranggapan bahwa apa yang dikatakan abah adalah perintah yang harus ditaati dan tidak boleh dilarang. Larang-larangan yang diberlakukan termasuk tempat-tempat yang dianggap sakral dan tidak boleh didatangi (pamali) terutama hutan, oleh masyarakat hal tersebut dilaksanakan sesuai dengan yang diperintahkan. Adapun tujuannya dari larangan tersebut tidak lain adalah untuk menjaga kelestarian hutan dan ketersediaan sumberdaya hayati yang ada dalam dalam hutan tersebut.

Disamping itu manfaat dari pelestarian hutan ini adalah untuk mencegah terjadinya berbagai musibah seperti longsor, banjir, atau kekeringan. Program penghijauan juga dilaksanakan guna menjaga daerah resapan air yang besar manfaatnya untuk kepentingan warga adat. Pentingnya menjaga dan melestrarikan hutan lindung ini, memang telah dirasakan sangat besar manfaatnya untuk kehidupan dan kesejahteraan mereka. Buktinya, pemakaian energi listrik di kampung adat ini memanfaatkan aliran air sungai melalui teknologi mikrohidro.

Masyarakat tidak kaku dan terbuka terhadap teknologi baru yang ditawarkan, karena oleh pimpinan adat sendiri memberi kesempatan kepada warganya untuk berkembang menjadi lebih baik tanpa harus meninggalkan adat, budaya dan norma yang telah ada dalam masyarakat.

Pembangunan lumbung pangan sebagai tempat penyimpan beras merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan pangan selama satu tahun, karena di Kampung Ciptagelar musim tanam padi hanya dilakukan satu tahun sekali dengan maksud untuk menjaga kesuburan tanah.

V. PENUTUP

Demikian hasil analisa masyarakat Kampung Ciptarasa dan Ciptagelar Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi ini dibuat. Kiranya dapat menjadi masukan dan lebih disempurnakan untuk dapat dimanfaatkan pada pelaksanaan perkuliahan Masyarakat dan Kelembagaan Pedesaan di tahun-tahun mendatang.
sumber* 

Rabu, 26 Januari 2011

PERBANDINGAN ANTARA ILMU KALAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu kalam sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari sesuatu agama. Di dalam ilmu kalam itu terdapat sub bahasan yang tentang perbandingan antara aliran-aliran serta ajaran-ajarannya. Dari perbandingan antar aliran ini, kita dapat mengetahui, menela’ah dan membandingkan antar paham aliran satu dengan aliran yang lain. sehingga kita memahami maksud dari segala polemik yang ada.

B. Rumusan Masalah
dalam makalah ini penulis akan memaparkan pembahasan tentang perbandingan antara aliran-aliran yang ikut berperan dalam ilmu kalam seperti pembahasan di bawah ini.
1. Apa isi dari perbandingan aliran?
2. Aliran apa saja yang membahas tentang isi makalah ini?

C. Tujuan
Dari penjelasan makalah ini penulis bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu kalam di samping itu untuk memperdalam pemahaman mahasiswa agar mempunyai wawasan yang luas tentang pemikiran aliran-aliran dalam ilmu kalam dan bisa menentukan mana yang terbaik bagi mereka.
BAB II
PERBANDINGAN ANTARA ALIRAN

A. Wahyu dan akal
kaum Mu'tazilah berpendapat semua persoalan di atas dapat  diketahui oleh akal manusia dengan perantara akal yang sehat dan cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui yang baik dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah wajib bersyukur kepada Tuhan. Menjauhi yang buruk
dan mengerjakan yang baik.
Berbeda dengan Mu'tazilah, kaum asy’ariyah berpendapat akal memang dapat mengetahui adanya Tuhan. Tetapi akal tidak dapat mengetahui cara berterima kasih kepada Tuhan. Untuk mengetahui hal-hal tersebut diperlukan wahyu. Melalui wahyu manusia bisa mengetahuinya. Tanpa wahyu, manusia tidak akan tahu.
Golongan maturidiyah samarkan berpendapat, akal dapat mengetahui adanya Tuhan kewajiban dan berterima kasih kepada Tuhan dan mengetahui baik dan buruk. Tetapi akal tidak dapat mengetahui bagaimana kewajiban berbuat baik dan meninggalkan buruk, karena itu wahyu sangatlah diperlukan untuk
menjelaskannya.
Golongan maturidiyah bukhara sependapat dengan kaum asy’ariyah (Drs. H. M. Yusran Asmuni. Ilmu Tauhid. Raja Grafindo Persada Jakarta: 1993.. hal. 154-155)

B. Pelaku dosa besar
1. Menurut aliran Khawarij
Ciri yang menonjol dari aliran Khawarij adalah watak  ektrimitas dalam memutuskan persoalan-persoalan kalam. Tak heran kalau aliran ini memiliki pandangan ekstrim pula tentang status pelaku dosa besar. Mereka memandang bahwa orangorang yang terlibat dalam peristiwa tahkim, yakni Ali, Mu'awiyah, amr bin al-ash, Abu Musa al-asy’ari adalah kafir, berdasarkan firman Allah pada surat al-Maidah ayat 44:
Artinya:
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
Semua pelaku dosa besar (murtabb al-kabiiah), menurut semua sub sekte khwarij, kecuali najdah adalah kafir dan akan disiksa dineraka selamanya. Sub sekte yang sangat ekstrim, azariqah, menggunakan istilah yang lebih mengerikan dari kafir, yaitu musyrik.
Mereka memandang musyrik bagi siapa saja yang tidak mau bergabung dengan barisan mereka. Adapun pelaku dosa besar dalam pandangan mereka telah beralih status keimanannya menjadi kafir millah (agama), dan berarti ia telah keluar dari Islam, mereka kekal dineraka bersama orang-orang kafir lainnya.
2. Menurut aliran Murji’ah
Pandangan aliran murji’ah tentang setatus pelaku dosa besar dapat ditelusuri dari definisi iman yang dirumuskan oleh mereka. Secara garis besar, sebagaimana telah dijelaskan sub sekte Khawarij dapat dikategorikan dalam dua kategori: ekstrim dan moderat.
Harun nasution berpendapat bahwa sub sekte murji’ah yang ekstrim dan mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya merupakan refleksi dari apa yang ada di dalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti telah menggeser atau merusak keimanannya. Bahkan keimanannya masih sempurna dimata Tuhan. Adapun murji’ah moderat ialah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa dineraka, ia tidak kekal didalamnya, bergantung pada ukuran dosar yang dilakukannya. Masih terbuka kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya sehingga ia bebas dari siksa neraca.
3. Menurut aliran Mu'tazilah
Perbedaannya, bila khwarij mengkafirkan pelaku dosa besar dan murji’ah memelihara keimanan pelaku dosa besar, Mu'tazilah tidak menentukan status dan predikat yang pasti bagi pelaku dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau kafir, kecuali dengan sebutan yang sangat terkenal, yaitu al-manzilah baial manzilataini.
Setiap pelaku dosa besar, menurut Mu'tazilah, berada diposisi tengah diantara posisi mukmin dan kafir. Jika
pelakunya meninggal dunia dan belum sempat bertaubat, ia akan dimasukkan ke dalam nerak selama-lamanya. Walaupun demikian, siksaan yang diterimanya lebih ringan dari pada siksaan orang-orang kafir. Dalam perkembangannya, beberapa tokoh Mu'tazilah, seperti wastul bin atha’ dan amr bin ubaid memperjelas sebutan itu dengan istilah fasik yang bukan mukmin atau kafir.
4. Aliran Asy’ariyah
Terhadap pelaku dosa besar, agaknya al-asy’ari, sebagai wakil ahl-as-Sunah, tidak mengkafirkan orang-orang yang sujud ke baitullah (ahl-al-qiblah) walaupun melakukan dosa besar, seperti berzina dan mencuri. Menurutnya, mereka masih tetap sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka
miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi jika dosa besar itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini dibolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia dipandang telah kafir.
Adapun balasan di akhirat kelak bagi pelaku dosa besar, apabila ia meninggal dan tidak sempat bertaubat, maka menurut al-asy’ari, hal itu bergantung pada kebijakan Tuhan Yang Maha Esa berkehendak mutlaq. Dari paparan singkat ini, jelaslah bahwa asy’ariyah sesungguhnya mengambil posisi yang sama dengan murji’ah, khususnya dalam pernyataan yang tidak mengkafirkan para pelaku dosa besar.
5. Aliran Maturidiyah
Aliran maturidiyah, baik samarkand maupun bukhara, sepakat menyatakan bahwa pelaku dosa masih tetap sebagai mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya. adapun balasan yang diperolehnya kelak di akhirat bergantung pada apa yang dilakukannya di dunia. jika ia meninggal tanpa tobat terlebih dahulu, keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. jika menghendaki pelaku dosa besar diampuni, ia akan memasukkan ke neraca, tetapi tidak kekal didalamnya.
6. Aliran Syi’ah Zadiyah
Penganut Syi’ah zaidiyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal di dalam neraca, jika ia belum tobat dengan tobat yang sesungguhnya. Dalam hal ini, Syi’ah zaidiyah memang dekat dengan Mu'tazilah. Ini bukan sesuatu yang aneh mengingat washil bin atha’, mempunyai hubungan dengan zaid moojan momen bahkan mengatakan bahwa zaid pernah belajar kepada washil bin atho’(DR. Abdul Rozak, M.Ag. DR. Rosihon Anwar, M. Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia Bandung: 2006. hal. 133-139)

C. Sifat-sifat Tuhan
1. Menurut aliran Mu'tazilah
Pertentangan paham antara kaum Mu'tazilah dan kaum asy’ariyah dalam masalah ini berkisar sekitar persoalan apakah Tuhan mempunyai sifat atau tidak. Jika Tuhan mempunyai sifat-sifat itu mestilah kekal seperti halnya dengan zat Tuhan. Tegasnya, kekalnya sifat-sifat akan membawa kepada paham banyak yang kekal (ta’addud al-qudama’ atau poltiplicity of eternals). Dan ini selanjutnya membawa pula kepada paham
syirik atau polyteisme. Suatu hal yang tak dapat diterima dalam teologi.
Sebagian telah dilihat dalam bagian 1, kaum Mu'tazilah mencoba menyelesaikan persoalan ini dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Ini berarti bahwa Tuhan tidak mempunyai pengetahuan, tidak mempunyai kekuatan dan sebagainya. Tuhan tetap mengetahui dan sebagainya bukanlah sifat dalam arti kata sebenarnya. Arti “Tuhan mengetahui dengan perantara pengetahuan dan pengetahuan itu adalah
Tuhan sendiri.
2. Menurut Aliran Asy’ariyah
Kaum asy’ariyah membawa penyelesaian yang berlawanan dengan Mu'tazilah mereka dengan tegas
mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat.
Menurut aliran asy’ariyah sendiri tidak dapat diingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan nya, di samping menyatakan bahwa Tuhan mengetahui dan sebagainya, juga menyatakan bahwa ia mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya. (Harun Nasution Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisis Pebandingan UI Press, Jakarta: 1986 hal. 135-136)
3. Aliran Maturidiyah
Dapat ditemukan persamaan antara al-maturidi dan alasy’ari, seperti di dalam pendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat seperti sama’, basher dan sebagainya. walaupun begitu pengertian al-maturidi tentang sifat berbeda dengan alasy’ari.
Menurut al-maturidi sifat tidak dikatakan sebagai esensinya dan bukan pula dari esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu mulazamah (ada bersama, baca: inheren) dzat tanpa pemisah.
Tampaknya paham al-maturidi, tentang makna sifat cenderung mendekati paham Mu'tazilah. Perbedaannya almaturidi mengaku adanya sifat-sifat sedangkan al-Mu'tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
4. Aliran Syi’ah Rafidhah
Sebagian besar tokoh Syi’ah rafidhah menolak bahwa Allah senantiasa bersifat tahu, namun adapula sebagian dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak bersifat tahun terhadap sesuatu sebelum ia menghendaki. Tatkala ia menghendaki sesuatu, ia pun bersifat tahu, jika dia tidak menghendaki, dia tidak bersifat tahu, maka Allah berkehendak menurut merek adalah bahwa Allah mengeluarkan gerakan (taharraka harkah), ketika gerakan
itu muncul, ia bersifat tahu terhadap sesuatu itu. Mereka berpendapat pula bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu yang tidak ada.(DR. Abdul Rozak, M.Ag. DR. Rosihon Anwar, M.Ag. Op. Cit. Hlm. 177-179)

D. Iman dan kufur
1. Aliran Khawarij
Khawarij menetapkan dosa itu hanya satu macamnya, yaitu dosa besar agar dengan demikian orang Islam yang tidak sejalan dengan pendiriannya dapat diperangi dan dapat dirampas harta bendanya dengan dalih mereka berdosa dan setiap yang berdosa adalah kafir. Mengkafirkan Ali, Utsman, 2 orang hakam, orang-orang yang terlibat dalam perang jamal dan orang-orang yang rela terhadap tahkim dan mengkafirkan
orang-orang yang berdosa besar dan wajib berontak terhadap penguasa yang menyeleweng.(Drs. H. Sahilun A Nasir. Pengantar Ilmu Kalam Raja grafindo Persada. Jakarta: 1996: hal. 98)
Dan iman menurut kwaharij, iman bukanlah tasdiq. Dan iman dalam arti mengetahui pun belumlah cukup. Menurut Abd. Al-jabbar, orang yang tahu Tuhan tetapi melawan kepadanya, bukanlah orang yang mukmin, dengan demikian iman bagi mereka bukanlah tasdiq, bukan pula ma’rifah tetapi amal yang timbul sebagai akibat dari mengetahui Tuhan tegasnya iman bagi mereka adalah pelaksanaan perintah-perintah Tuhan (Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran sejarah Analisis Perbandingan. Jakarta: 25006, UI press. Halm. 147)
2. Aliran Murji’ah
Menurut sub sekte murji’ah yang ekstrim adalah mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna dalam pandangan Tuhan.
Sementara yang dimaksud murji’ah moderat adalah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal didalamnya bergantung pada dosa yang dilakukannya.(DR. Abdul Rozak, M.Ag. DR. Rosihon Anwar, M. Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia Bandung: 2006. hal. 144-145)
3. Aliran Mu'tazilah
Iman adalah tashdiq di dalam hati, iktar dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan konsep ketiga ini mengaitkan perbuatan manusia dengan iman, karena itu, keimanan seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya. Konsep ini dianut pula olah Khawarij.(Drs. H. M. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid. Raja Grafindo Persada Jakarta: 1993. hal. 157)
4. Aliran Asy’ariyah
Menurut aliran ini, dijelaskan oleh syahrastani, iman secara esensial adalah tasdiq bil al janan (membenarkan dengan kalbu). Sedangkan qaul dengan lesan dan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bil arkan) hanya merupakan furu’ (cabang-cabang) iman. Oleh sebab itu, siapa pun yang membenarkan ke-Esaan Allah dengan kalbunya dan juga membenarkan utusan-utusan nya beserta apa yang mereka bawa dari-Nya, iman secara ini merupakan sahih. Dan keimanan seseorang tidak akan hilang kecuali ia mengingkari salah satu
dari hal-hal tersebut.(DR. Abdul Rozak, M.Ag. DR. Rosihon Anwar, M. Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia Bandung: 2006)
5. Maturidiyah
Iman adalah tasdid dalam hati dan diikrarkan dengan lidah, dengan kata lain, seseorang bisa disebut beriman jika ia mempercayai dalam hatinya akan kebenaran Allah dan mengikrarkan kepercayaannya itu dengan lidah. Konsep ini juga tidak menghubungkan iman dengan amal perbuatan manusia. yang penting tasdid dan ikrar.

E. Perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia
1. Aliran Jabariyah
Menurut aliran ini, manusia tidak berkuasa atas perbuatannya yang menentukan perbuatan manusia itu adalah
Tuhan, karena itu manusia tidak berdaya sama sekali untuk mewujudkan perbuatannya baik atau buruk.
Diumpamakan manusia seperti wayang yang tidak berdaya, bagaimana dan kemana ia bergerak terserah dalang yang memainkan wayang itu. Dalang manusia adalah Tuhan, ini dianggap paham Jabariyah yang dianggap moderat, perbuatan manusia tidak sepenuhnya ditentukan untuk Tuhan, tetapi manusia punya andil juga dalam dalam mewujudkan perbuatannya.
2. Aliran Qadariyah
Manusia mempunyai iradat (kemampuan berkehendak atau memilih) dan qudrah (kemampuan untuk berbuat).
Menurut paham ini Allah SWT membekali manusia sejak lahirnya dengan qudrat dan iradat, suatu kemampuan untuk mewujudkan perbuatan-perbuatan tersebut.(Drs. H. M. Yusran Asmuni. Op.Cit. hal. 159-160)
3. Aliran Mu'tazilah
Paham ini dalam masalah af’al ibadah seirama dengan paham Qadariyah untuk perbuatan-perbuatan Tuhan, mereka berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban itu dapat disimpulkan dalam satu kewajiban yaitu kewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia seperti kewajiban Tuhan menepati janji-janji-Nya. Kewajiban Tuhan mengirim Rasulrasul-Nya untuk petunjuk kepada manusia dan lain-lain.(Harun Nasution. Op.Cit. hal 128)
4. Aliran Asy’ariyah
Dalam menggambarkan hubungan perbuatan manusia dengan qodrat dan iradat Tuhan, Abu Hasan Ali Bin Ismail al-Asy’ari menggunakan paham kasb yang dimaksud dengan al-Kasb adalah berbarengan kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan. Artinya apabila seseorang ingin melakukan suatu perbuatan, perbuatan itu baru terlaksana jika sesuai dengan kehendak Tuhan.
5. Aliran Maturidiyah
Menurut golongan maturidiyah, kemauan sebenarnya adalah kemauan Tuhan namun tidak selamanya perbuatan manusia dilakukan atas kerelaan Tuhan karena Tuhan tidak menyukai perbuatan-perbuatan buruk. Jadi di dalam aliran maturidiyah ada 2 unsur: kehendak dan kerelaan.

F. Kehendak muthlak dan keadilan Tuhan
1. Aliran Mu'tazilah
Mu'tazilah yang berperinsip keadilan Tuhan mengatakan bahwa Tuhan itu adil dan tidak mungkin bebuat zalim dengan memaksakan kehendak kepada hamba-Nya kemudian mengharuskan hamba-Nya untuk menanggung akibat perbuatannya, secara lebih jelas aliran Mu'tazilah mengatakan bahwa kekuasaan sebenarnya tidak mutlak lagi. Itulah sebabnya Mu'tazilah menggunakan ayat 62 surat Al-Ahzab (33)
2. Aliran Asy’ariyah
Mereka percaya pada kemutlakan kekuasaan Tuhan, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu semata-mata adalah kekuasan dan kehendak mutlak-Nya dan bukan karena kepentingan manusia atau tujuan yang lain.
Landasan surat al-Buruj ayat 16
3. Aliran Maturidiyah
Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah samarkand, dibatasi oleh keadilan Tuhan, Tuhan adil mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat serta tidak mengabaikan kewajibankewajiban hanya terhadap manusia. pendapat ini lebih dekat dengan Mu'tazilah.
Adapun maturidiyah bukharak berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak, Tuhan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya tidak ada yang menentang atau memaksa Tuhan dan tidak ada larangan bagi Tuhan. Tampaknya aliran maturidiyah bukhara lebih dekat dengan asy’ariyah.(Drs. Abd. Rozak. M.Ag. Drs. Rosihon Anwar, M.Ag. Ilmu Kalam Op. Cit. hal. 182-187)

BAB III
KESIMPULAN
kaum Mu'tazilah berpendapat semua persoalan di atas dapat diketahui oleh akal manusia dengan perantara akal yang sehat dan cerdas seseorang dapat mencapai makrifat dan dapat pula mengetahui yang baik dan buruk. Bahkan sebelum wahyu turun, orang sudah wajib bersyukur kepada Tuhan. Menjauhi yang buruk dan
mengerjakan yang baik.
Ciri yang menonjol dari aliran Khawarij adalah watak ektrimitas dalam memutuskan persoalan-persoalan kalam. Tak heran kalau aliran ini memiliki pandangan ekstrim pula tentang status pelaku dosa besar.
Kaum asy’ariyah membawa penyelesaian yang berlawanan dengan Mu'tazilah mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat.
Menurut aliran asy’ariyah sendiri tidak dapat diingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat, karena perbuatan-perbuatan nya, di samping menyatakan bahwa Tuhan mengetahui dan sebagainya, juga menyatakan bahwa ia mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya.
Menurut sub sekte murji’ah yang ekstrim adalah mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna dalam pandangan Tuhan.
Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah samarkand, dibatasi oleh keadilan Tuhan, Tuhan adil mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat serta tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban hanya terhadap manusia. pendapat ini lebih dekat dengan Mu'tazilah. 

DAFTAR PUSTAKA
DR. Abdul Rozak, M.Ag. DR. Rosihon Anwar, M. Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia Bandung: 2006.
Harun Nasution Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisis Pebandingan UI Press, Jakarta: 1986
Drs. H. Sahilun A Nasir. Pengantar Ilmu Kalam Raja grafindo Persada. Jakarta: 1996:
Drs. H. M. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid. Raja Grafindo Persada Jakarta: 1993.


Minggu, 11 April 2010

KISAHKU – KISAHMU

Seandainya bisa terulang kembali masa-masa itu, masa dimana pertama kali kau mengenalku dan aku mengenalmu. Kau yang selalu temani hari-hariku, kau selalu menjadi tempat terbaikku untuk menceritakan semua keluh kesahku. Kau adalah teman terbaik yang pernah kukenal.

Sekian lama kita memupuk pertemanan kita dan tumbuh menjadi persahabatan yang indah. Sayang, kenapa kita terburu nafsu dan mengubah persahabatan itu menjadi sebuah hubungan yang menghancurkan semuanya. Kita sudah terbuai oleh kata-kata cinta. Indahnya cinta telah membutakan kita.

Seperti angin yang berhembus, kau hembuskan kepadaku cinta, hingga buatku sejuk. Seperti air yang mengalir, kau alirkan perhatianmu kepadaku, hingga kau buat aku merasa berarti. Saat ku rasa tiada guna lagi arti hadirku disini, kau yakinkan aku dengan segenap tulusmu. Kau buat aku bangkit kembali, seakan kau yakini aku masih pantas dapatkan bahagiaku. Sentuhan kasihmu dapat buraikan mata hatiku. Kau buat aku tegar hadapi cobaan hidup ini. Karena dirimu hidupku menjadi bermakna. Dan akhirnya kau sadarkan aku bahwa kau lah yang aku cari selama ini. Hanya kaulah yang mampu membuat hatiku yang mati menjadi berarti.

Manis-manis yang kita rasa, membuat ku tak rela cintaku berakhir. Kau yang telah mewarnai hari-hariku. Kau yang selalu ada untukku. Kau yang selalu membuatku tertawa. Kau yang selalu menemani hari-hariku yang sepi. Kau yang selalu menghiburku di saat ku sedih. Hanyalah kau yang mampu singgahi ruang-ruang hidupku. Hanyalah kau yang sanggup menempati ruang-ruang hatiku.

Kini, cintamu telah hilang karena kebodohanku. Kesalahanku yang telah membuatmu menangis, menorehkan kepedihan. Kekhilafanku yang tak termaafkan, berujung luka di hatimu. Kau tak sanggup lagi memelukku, memegang erat tanganku, bahkan kau tak bisa lagi tersenyum padaku.

Maaf, jika aku menjadi pisau bagimu yang tiap waktu hanya bisa mengukir luka. Tapi, sungguh semua tak kususun seperti itu. Jalan hidupku saja tak bisa kutebak. Maaf, karena aku hanya manusia yang tidak pernah menjadi sempurna.

Maafkanlah atas khilafku yang menyiakan cinta yang kau beri. Bukan inginku melukaimu. Bukan inginku membuatmu menangis.

Sebenarnya aku telah berharap, ku akan miliki dirimu untuk selamanya. Ingin ku yakini cinta ini tak kan berakhir. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat kau mencintaiku? Apa yang harus aku tunjukkan untuk membuat kau menyayangiku?

Berulang kali aku yakinkan cinta ini kepadamu yang kucinta selama ini. Namun kau terus menhancurkan diriku, cintaku, jiwaku. Andai kau tahu cara yang telah aku tempuh untuk mendapatkan cintamu, sampai aku pertaruhkan diriku. Harusnya kau sadari betapa besar cintaku ini. Andaikan kau masih ada, ku ingin kau tahu betapa ku menyayangimu. Semoga kau mengerti aku dan perasaanku ini.

Ketika asa ini redup bersama dengan waktu yang menyapa pergi, dunia bagai kelam, hitam tanpa warna. Dimana harus kucari cintamu yang telah hilang?

Aku lemah tanpamu, aku rentan karena hilangnya cintamu. Dirimu yang selalu temani khayalku. Rasakan tangisku. Tahukah kau? Aku telah terbiasa denganmu setiap waktu.

Aku tak mengerti begitu beratnya rasa ini. Rasa yang kurasakan setelah kau pergi. Adakah kau merasakannya? Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk pulih dari kehancuran ini?

Tak mudah bagiku untuk melupakan semua cerita indah di antara kita. Andai saja kau bisa merasakan apa yang ku rasa, bahwa hatiku pun terluka. Sanggupkah kutegakkan langkahku. Jalani hari tanpa kau disampingku. Sungguh berat jalan yang kutempuh, mampukah aku?

Dalam kesendirianku tiada tempat untuk mengadu. Tiada tempat untukku meluapkan kasih. Hanya bayangan yang senantiasa hadir. Dalam kesendirian ini tiada tempatku tuk menyapa. Tiada tempatku menyuarakan kata. Hanya merana yang menerpa.

Aku telah terbangun dari mimpi yang ingin menjadi nyata. Aku sadar kita masing-masing telah memiliki kehidupan sendiri. Aku hanya bisa mengingatmu, karna kau tak pernah tahu tentang rasa ini. Hilang... Hilang yang aku rasa. Cintaku telah berakhir.

Mungkin aku tak bisa memiliki dirimu seumur hidupku. Mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kita berdua. Kudoakan semoga kau bahagia. Biarlah kusimpan semua kisah cinta yang pernah ada, ku relakan semuanya apa adanya.

Disini aku akan selalu ada untukmu. Kau tak akan pernah merasa sendiri. Tak peduli kapanpun dan dimanapun, aku ada disini untuk menemani. Jika kau perlu seseorang untuk berbagi, jika kau perlu bahu untuk mencurahkan isi hati, aku siap untuk menemani. Dari masa ke masa, baik sedih maupun senang, benci dan cinta, aku akan tetap jadi temanmu.

Karena Sejatinya...
CINTA itu tulus bukan egois...
CINTA itu harus berkorban bukan menuntut...
CINTA itu bersifat ikhlas bukan pamrih...
CINTA itu akan memberi bukan menerima...
CINTA itu berupa senyuman bukan tangisan...
CINTA itu memberi bahagia bukan kesedihan...
CINTA itu menghasilkan harapan bukan putus asa...
CINTA itu bersedia menunggu bukan ditunggu...
CINTA itu menghidupkan bukan mematikan...
CINTA itu suatu anugerah bukan musibah...

I’ve been with you such a long time
you make me live
you’re the first one
and i want you to know
that my feelings are true
i really love you
you’re my best friend